Rabu, 10 Desember 2014

Mengapa Mematuhi TUHAN ?

Sumber : Google Images


Pada tulisan ini saya ingin menekankan bahwa “Islam” berarti kepatuhan total kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tak seorang pun bisa menjadi seorang muslim sejati kecuali jika meninggalkan kepatuhan kepada siapa pun selain Allah SWT. Kenapa perihal kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya itu terus-menerus ditekankan? Mungkin kita bertanya-tanya apakah Tuhan sanagat memerlukan kepatuhan kita sampai-sampai harus terus-menerus memintanya dari kita? Juga, apakah Dia, seperti halnya penguasa dunia yang haus kekuasaan, sehingga Dia harus menekankan bahwa peraturan-Nya tidak akan berjalan tanpa dengan menaklukan kita?
            Mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan diatas.
  • Kesejahteraan kita
            Pada dasarnya, permintaan untuk mematuhi Allah ditunjukan untuk kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri. Dia tidak seperti penguasa dunia yang menaklukan manusia untuk keuntungan dirinya sendiri. Sedangkan Allah tidak memerlukan apa pun dari manusia. Dia tidak meminta pajak, Dia juga tidak akan membangut istana, membeli kendaraan, atau mengumpulkan barang-barang mewah dengan menggunakan biaya dari kita sebagai makhluknya. Dia tidak tergantung pada manusia untuk melakukan tindakan apa pun. Apa pun yang ada di dunia ini adalah milik-Nya semata.
            Dia menghendaki kepatuhan kita karena Dia tidak ingin manusia yang merupakan ciptaan-Nya yang paling mulia menjadi abdi bagi manusia lain seperti halnya kita, atau menjadi abdi setan atau menundukan kepalanya di hadapan segala sesuatu yang tak pantas untuk disembah, dan seperti halnya binatang, menjadi abdi bagi hawa nafsunya sendiri dan kemudian jatuh ke tingkat yang paling rendah.
Oleh karenanya, Dia menyatakan: “Patuhilah Aku dan berjalanlah dengan cahay yang telah Aku turunkan memalui para Rasul-Ku. Maka kamu akan menemukan jalan yang lurus. Dengan berjalan di atas cahaya-Nya, kita akan memperoleh martabat di dunia maupun di akhirat.
  • Mematuhi yang lain di samping Allah SWT
            Mengapa manusia jatuh ke dalam kegelapan dengan mematuhi yang lain di samping Allah, dan mengapa hanya dengan mematuhi Allah semata, hidup ini bisa menjadi tenang?
            Mari kita kaji pertanyaan tersebut.
            Hidup kita dibangun dengan relasi-relasi dan transaksi-transaksi yang tak terhitung banyaknya. Hubungan kita yang pertama adalah dengan tubuh kita sendiri: tangan, kaki, mata, telinga, lidah, hati, otak, semua ini dipercayakan oleh Allah kepada kita untuk melayani kita. Kita juga dikaruniai kebebasan untuk menentukan tujuan apa kita menggunakan anggota tubuh kita tersebut.
            Apa yang boleh dimasukkan ke perut, dan apa yang harus dihindari. Apa yang kita perbuat dengan tangan kita, dan apa yang harus dihindari oleh tangan kita. Kemana kaki kita melangkah, dan kapan kita mesti menahannya. Apa yang kita lihat dengan mata kita, yang kita dengar denagn telinga kita. Inilah abdi-abdi kita yang dengan itu semua kita dapat melakukan tindakan-tindakan baik atau buruk, tergantung apa pilihan kita. Sebaliknya, semua itu bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang yang teramat dalam.
            Kemudian, kita juga memiliki hubungan dengan anggota keluarga, ayah, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, istri, anak dan anggota keluarga lain yang dengan mereka kita berhubangan secara kontinyu. Kita harus memutuskan bagaimana bersikap kepada mereka. Jika kita bertindak salah, berarti kita membuat neraka untuk diri kita sendiri. Dan di akhirat, kita akan mempertanggung jawabkannya.
            Di dunia ini, kebahagianan, kehormatan dan baik-tidaknya nama kita, semuannya tergantung pada kemampuan kita dalam membangun hubungan-hubungan ini dengan semestinya. Tindakan-tindakan yang dapat menggagalkan atau merusak hubungan ini harus dihindari.
            Sadarilah untuk membangun hubungan-hubungan yang tepat dengan anggota tubuh kita dan dengan orang lain, diperlukan cahaya ilmu dalam setiap langkah kita. Kita tidak bisa memperoleh cahaya ilmu dari manusia yang juga seperti kita.
  • Satu-satunya bimbingan yang benar
            Dalam analisis yang terakhir, tadi jelas bahwa hanya ada satu sumber kebenaran: yakni Tuhan, yang darinya kita bisa memperoleh cahaya yang kita perlukan. Tuhan Maha Tahu dan Maha Melihat. Dia mengetahui realitas dalam segala sesuatu. Hanya Dia yang dapat memberitahukan dengan tepat apa yang menguntungkan dan apa pula yang merugikan kita. Hanya Dia yang dapat menentukan tindakan-tindakan apa yang benar dan apa yang salah bagi kita. Oleh karena itu, segala bimbingan yang dituntunkan oleh Yang Maha Suci kepada kita adalah tanpa pamrih dan memang demi kepentingan kita sebagai ciptaan-Nya.
            Allah Maha Adil. Tidak ada unsur-unsur ketidakadilan sama sekali pada-Nya. Perintah-perintah-Nya didasarkan sepenuhnya atas kebenaran dan keadilan. Bagi-Nya sama sekali tidak masalah apakah kita berlaku tidak adil, baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain.

     Janganlah kita menjadi orang-orang yang mengklaim percaya kepada Allah namun tidak pernah menyisihkan waktu, kekayaan, atau hidup kita untuk memperjuangkan din-Nya. Marilah kita berangkat dan berjuang demi Allah dengan apa pun yang kita miliki.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis maupun para pembaca untuk dapat merenungkan kembali makna kepatuhan kita terhadap tuhan.



Referensi:    Maududi, Abdul A’la. Menjadi Muslim Sejati. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar