![]() |
| Sumber : Google Images |
Pada tulisan
ini saya ingin menekankan bahwa “Islam” berarti kepatuhan total kepada Allah
dan Rasul-Nya, dan tak seorang pun bisa menjadi seorang muslim sejati kecuali
jika meninggalkan kepatuhan kepada siapa pun selain Allah SWT. Kenapa perihal kepatuhan kepada
Allah dan Rasul-Nya itu terus-menerus ditekankan? Mungkin kita bertanya-tanya
apakah Tuhan sanagat memerlukan kepatuhan kita sampai-sampai harus terus-menerus
memintanya dari kita? Juga, apakah Dia, seperti halnya penguasa dunia yang haus
kekuasaan, sehingga Dia harus menekankan bahwa peraturan-Nya tidak akan
berjalan tanpa dengan menaklukan kita?
- Kesejahteraan kita
Pada dasarnya, permintaan untuk mematuhi Allah ditunjukan untuk
kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri. Dia tidak seperti penguasa
dunia yang menaklukan manusia untuk keuntungan dirinya sendiri. Sedangkan Allah
tidak memerlukan apa pun dari manusia. Dia tidak meminta pajak, Dia juga tidak
akan membangut istana, membeli kendaraan, atau mengumpulkan barang-barang mewah
dengan menggunakan biaya dari kita sebagai makhluknya. Dia tidak tergantung
pada manusia untuk melakukan tindakan apa pun. Apa pun yang ada di dunia ini
adalah milik-Nya semata.
Dia menghendaki kepatuhan kita
karena Dia tidak ingin manusia yang merupakan ciptaan-Nya yang paling mulia
menjadi abdi bagi manusia lain seperti halnya kita, atau menjadi abdi setan
atau menundukan kepalanya di hadapan segala sesuatu yang tak pantas untuk
disembah, dan seperti halnya binatang, menjadi abdi bagi hawa nafsunya sendiri
dan kemudian jatuh ke tingkat yang paling rendah.
Oleh
karenanya, Dia menyatakan: “Patuhilah Aku dan berjalanlah dengan cahay yang
telah Aku turunkan memalui para Rasul-Ku. Maka kamu akan menemukan jalan yang
lurus. Dengan berjalan di atas cahaya-Nya, kita akan memperoleh martabat di
dunia maupun di akhirat.
- Mematuhi yang lain di samping Allah SWT
Mengapa manusia jatuh ke dalam kegelapan dengan mematuhi yang lain
di samping Allah, dan mengapa hanya dengan mematuhi Allah semata, hidup ini
bisa menjadi tenang?
Mari kita kaji pertanyaan tersebut.
Hidup kita dibangun dengan
relasi-relasi dan transaksi-transaksi yang tak terhitung banyaknya. Hubungan
kita yang pertama adalah dengan tubuh kita sendiri: tangan, kaki, mata,
telinga, lidah, hati, otak, semua ini dipercayakan oleh Allah kepada kita untuk
melayani kita. Kita juga dikaruniai kebebasan untuk menentukan tujuan apa kita menggunakan
anggota tubuh kita tersebut.
Apa yang boleh dimasukkan ke perut,
dan apa yang harus dihindari. Apa yang kita perbuat dengan tangan kita, dan apa
yang harus dihindari oleh tangan kita. Kemana kaki kita melangkah, dan kapan
kita mesti menahannya. Apa yang kita lihat dengan mata kita, yang kita dengar
denagn telinga kita. Inilah abdi-abdi kita yang dengan itu semua kita dapat
melakukan tindakan-tindakan baik atau buruk, tergantung apa pilihan kita.
Sebaliknya, semua itu bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang yang teramat
dalam.
Kemudian, kita juga memiliki
hubungan dengan anggota keluarga, ayah, ibu, saudara perempuan, saudara
laki-laki, istri, anak dan anggota keluarga lain yang dengan mereka kita berhubangan
secara kontinyu. Kita harus memutuskan bagaimana bersikap kepada mereka. Jika
kita bertindak salah, berarti kita membuat neraka untuk diri kita sendiri. Dan
di akhirat, kita akan mempertanggung jawabkannya.
Di dunia ini, kebahagianan,
kehormatan dan baik-tidaknya nama kita, semuannya tergantung pada kemampuan
kita dalam membangun hubungan-hubungan ini dengan semestinya. Tindakan-tindakan
yang dapat menggagalkan atau merusak hubungan ini harus dihindari.
Sadarilah untuk membangun hubungan-hubungan
yang tepat dengan anggota tubuh kita dan dengan orang lain, diperlukan cahaya
ilmu dalam setiap langkah kita. Kita tidak bisa memperoleh cahaya ilmu dari
manusia yang juga seperti kita.
- Satu-satunya bimbingan yang benar
Dalam analisis yang terakhir, tadi
jelas bahwa hanya ada satu sumber kebenaran: yakni Tuhan, yang darinya kita
bisa memperoleh cahaya yang kita perlukan. Tuhan Maha Tahu dan Maha Melihat.
Dia mengetahui realitas dalam segala sesuatu. Hanya Dia yang dapat
memberitahukan dengan tepat apa yang menguntungkan dan apa pula yang merugikan
kita. Hanya Dia yang dapat menentukan tindakan-tindakan apa yang benar dan apa
yang salah bagi kita. Oleh karena itu, segala bimbingan yang dituntunkan oleh
Yang Maha Suci kepada kita adalah tanpa pamrih dan memang demi kepentingan kita
sebagai ciptaan-Nya.
Allah Maha Adil. Tidak ada
unsur-unsur ketidakadilan sama sekali pada-Nya. Perintah-perintah-Nya
didasarkan sepenuhnya atas kebenaran dan keadilan. Bagi-Nya sama sekali tidak
masalah apakah kita berlaku tidak adil, baik pada diri sendiri maupun kepada
orang lain.
Janganlah kita menjadi orang-orang yang mengklaim percaya kepada Allah namun tidak pernah menyisihkan waktu, kekayaan, atau hidup kita untuk memperjuangkan din-Nya. Marilah kita berangkat dan berjuang demi Allah dengan apa pun yang kita miliki.
Semoga tulisan
ini bisa bermanfaat bagi penulis maupun para pembaca untuk dapat merenungkan
kembali makna kepatuhan kita terhadap tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar